MEREKAYASA KECERDESAN TIRUAN DARI LEBAH DAN SEMUT
▪️Turizal Husein.
Santri IRo Nigumi
____
Buku Artificial Intelligence (AI) ‘Mengupas Rekayasa Kecerdasan Tiruan’ yang ditulis oleh Prof. Imam Robandi telah saya baca selama dua bulan. Buku ini merupakan satu dari beberapa buku yang saya miliki. Buku AI ini secara tidak langsung telah menaikkan kasta koleksi buku saya, karena koleksi buku saya hanyalah buku buku biasa. Buku AI ini bagi saya, ternyata memiliki tingkat kesulitan sangat tinggi. Saya sedikit menemui kesulitan untuk memahami dan menyelami makna dari setiap babnya.
Membaca sebuah buku bagi seorang guru kampung yang sudah tidak muda lagi seperti saya ini seperti sebuah kebutuhan. Sebuah buku yang berat dan memerlukan reasoning (pemikiran) yang mendalam seperti buku AI ini, seakan membuat saya sedang menghadapi mata kuliah tambahan, yang semua materi terkait dengan mata kuliah teknik, sedangkan jurusan yang saya ambil adalah jurusan Tarbiyah.
Kondisi kepala terkadang terasa pusing. Mungkin ini mempertegas bahwa buku ini benar benar sebuah buku yang memerlukan kecerdasan tingkat tinggi bagi pembacanya untuk sekedar memahami beberapa pembelajaran dan teori ilmu yang tertulis di dalamnya.
Dari lima bab yang sudah saya buka dan membacanya, hanya bab satu yang benar-benar berjodoh dengan kemampuan berfikir yang saya miliki. Saya terkadang sedikit merenung apa mungkin otak ini sudah tidak mampu menerima materi yang tingkat kesulitannya cukup tinggi. Saya juga terkadang tersenyum sendiri, “ ini mungkin faktor umur ”.
Ternyata dengan membaca buku AI karya Prof Imam Robandi, pikiran saya yang sangat awam ini sedikit demi sedikit mulai terbuka (ini baru prediksi saya secara pribadi). Semua manusia akan menemukan tingkat kesulitan berbeda. Tinggal kita mampu atau tidak mengatur system control yang sudah Tuhan berikan. System control itu bisa dengan mengadopsi kecerdasan binatang, seperti semut dan lebah. Segerombolan lebah ternyata mampu membuat rumah madu secara kolosal yang sangat cantik, tanpa dipandu oleh seorang arsitek. Bangunan yang didirikan bisa kokoh dan rapi tanpa ada bantuan semen ataupun meteran atau sejenis bantuan selayaknya manusia mendirikan sebuah gedung.
Segerombolan lebah dapat bekerja tanpa ada pengawasan dari seorang mandor. Lebah-lebah tersebut tetap dapat bekerja sesuai dengan kemampuan dan porsi masing masing. Binatang satu ini sudah menanamkan sebuah kerja yang optimal, efektif dan efesien serta modern.
Walaupun ini hanya kecerdasan tiruan atau buatan, hasilnya tentu tidak akan pernah sama dengan yang aslinya. Kecerdasan tiruan ini, bagi saya pribadi sebagai mahluk Tuhan dapat saya jadikan sebagai sebuah perumpamaan sekaligus pembelajaran. Sebuah pembelajaran ( learning) bagi manusia, bahwa seekor binatangpun mampu menjalankan tugas dan fungsi yang diberikan Tuhan kepadanya untuk dilaksanakan. Dengan kecerdasan tiruan ini, manusia berhasil mengembangkan berbagai hasil temuan yang dapat membantu kerja manusia dengan memiliki karakter yang cerdas. Kecerdasan tiruan ini sekaligus dapat membantu manusia dalam menyelesaikan berbagai pekerjaannya dengan menggunakan berbagai macam produk hasil rekayasa manusia itu sendiri.
Dari sekian kecerdasan tiruan yang secara rinci dan sistematis ditulis oleh Prof Imam Robandi, saya sedikit bertanya dalam hati. Mengapa seorang Prof Imam hanya menuliskan kelebihan dan kecerdasan dari binatang ? Sebaliknya mengapa beliau tidak menuliskan juga sisi negatif dari setiap binatang tersebut ?
Beberapa bab yang telah saya baca, saya tidak menemukan sisi lain, sisi kekurangan binatang yang dijadikan perumpaannya. Seorang Prof Imam hanya memberi contoh sisi kelebihan yang dimiliki oleh kawanan binatang.
Binatang menurut Prof Imam sangat hebat. Kawanan binatang yang ia contohkan sangatlah cerdas, seperti kecerdasannya dalam mengolah informasi sebagai manajemen informasi modern, yang tanpa sengaja telah mengajarkan manusia untuk berbuat lebih optimal. Selain memiliki banyak kecerdasan, ternyata seekor semut juga memiliki sisi negatifnya (ini yang tidak Prof Imam jelaskan). Dan sisi negatif ini memiliki kesamaan dengan perilaku negatif manusia. Konon, binatang kecil (semut) ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan usianya tidak lebih dari satu tahun. Budaya ini banyak juga ditiru manusia untuk menimbun dan menumpuk harta dan lain-lainnya tanpa mengolahnya) dan juga tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya. Dampak yang ditimbulkannya adalah sikap sia-sia dan pemborosan.
Begitu juga dengan lebah. Binatang satu ini dibekali senjata andalan berupa sengat berduri, dengan racun di dalamnya. Bagi yang hipersensitif, setiap sengatan dapat menyebabkan reaksi serius (seperti demam tinggi). Baginya, senjata tersebut berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan diri manakala diusik. Sikap defensif yang berlebihan ini sangat berbahaya jika diadopsi oleh manusia, terutama manusia yang memiliki sifat pendendam. Tuhan selalu mengajarkan kepada kita semua untuk bersikap sabar dan pemaaf kepada orang yang berlaku tidak baik kepada kita.
Berbagai pertanyaan tersebut sampai saat ini belum saya temukan jawabannya. Saya hanya berasumsi mungkin Prof Imam sedang mengajarkan kepada kita, untuk tidak melihat kerkurangan dan kelemahan orang lain. Kita semua sedang diajarkan untuk cukup melihat kelebihan yang dimiliki orang lain. Mungkin juga seorang Prof Imam sedang mengajarkan kepada kita bahwa hal yang wajar jika binatang berbuat kesalahan, karena seekor binatang diciptakan Tuhan hanya dikaruniai otak tanpa diberi kemampuan berfikir atau belajar menangkap sebuah kebenaran seperti manusia.
____
Tangerang. September.21.2020
Selasa, 22 September 2020
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
MIMPI ANAK LEBAK
* MIMPI ANAK LEBAK * ▪️turizal husein Dosen PS UMT Indonesia ____ Memiliki impian besar melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi...
-
* MIMPI ANAK LEBAK * ▪️turizal husein Dosen PS UMT Indonesia ____ Memiliki impian besar melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi...
-
RENCANA INDUK PENELITIAN Rencana Induk Penelitian bagi perguruan tinggi merupakan sebuah kerangka perencanaan penelitian p...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar