Selasa, 22 September 2020

MEREKAYASA KECERDESAN TIRUAN DARI LEBAH DAN SEMUT

▪️Turizal Husein.
  Santri IRo Nigumi

____
Buku Artificial Intelligence (AI) ‘Mengupas Rekayasa Kecerdasan Tiruan’ yang ditulis oleh Prof. Imam Robandi telah saya baca selama dua bulan. Buku ini merupakan satu dari beberapa buku yang saya miliki. Buku AI ini secara tidak langsung telah menaikkan kasta koleksi buku saya, karena koleksi buku saya hanyalah buku buku biasa. Buku AI ini bagi saya, ternyata memiliki tingkat kesulitan sangat tinggi. Saya sedikit menemui kesulitan untuk memahami dan menyelami makna dari setiap babnya.

Membaca sebuah buku bagi seorang guru kampung yang sudah tidak muda lagi seperti saya ini seperti sebuah kebutuhan. Sebuah buku yang berat dan memerlukan reasoning (pemikiran) yang mendalam seperti buku AI ini, seakan membuat saya sedang menghadapi mata kuliah tambahan, yang semua materi terkait dengan mata kuliah teknik, sedangkan jurusan yang saya ambil adalah jurusan Tarbiyah.

Kondisi kepala terkadang terasa pusing. Mungkin ini mempertegas bahwa buku ini benar benar sebuah buku yang memerlukan kecerdasan tingkat tinggi bagi pembacanya untuk sekedar memahami beberapa pembelajaran dan teori ilmu yang tertulis di dalamnya.

Dari lima bab yang sudah saya buka dan membacanya, hanya bab satu yang benar-benar berjodoh dengan kemampuan berfikir yang saya miliki. Saya terkadang sedikit merenung apa mungkin otak ini sudah tidak mampu menerima materi yang tingkat kesulitannya cukup tinggi. Saya juga terkadang tersenyum sendiri, “ ini mungkin faktor umur ”.

Ternyata dengan membaca buku AI karya Prof Imam Robandi, pikiran saya yang sangat awam ini sedikit demi sedikit mulai terbuka (ini baru prediksi saya secara pribadi).  Semua manusia akan menemukan tingkat kesulitan berbeda. Tinggal kita mampu atau tidak mengatur system control yang sudah Tuhan berikan. System control itu bisa dengan mengadopsi kecerdasan binatang, seperti semut dan lebah. Segerombolan lebah ternyata mampu membuat rumah madu secara kolosal yang sangat cantik, tanpa dipandu oleh seorang arsitek. Bangunan yang didirikan bisa kokoh dan rapi tanpa ada bantuan semen ataupun meteran atau sejenis bantuan selayaknya manusia mendirikan sebuah gedung.

Segerombolan lebah dapat bekerja tanpa ada pengawasan dari seorang mandor. Lebah-lebah tersebut tetap dapat bekerja sesuai dengan kemampuan dan porsi masing masing. Binatang satu ini sudah menanamkan sebuah kerja yang optimal, efektif dan efesien serta modern.

Walaupun ini hanya kecerdasan tiruan atau buatan, hasilnya tentu tidak akan pernah sama dengan yang aslinya. Kecerdasan tiruan ini, bagi saya pribadi sebagai mahluk Tuhan dapat saya jadikan sebagai sebuah perumpamaan sekaligus pembelajaran. Sebuah pembelajaran ( learning) bagi manusia, bahwa seekor binatangpun mampu menjalankan tugas dan fungsi yang diberikan Tuhan kepadanya untuk dilaksanakan. Dengan kecerdasan tiruan ini, manusia berhasil mengembangkan berbagai hasil temuan yang dapat membantu kerja manusia dengan memiliki karakter yang cerdas. Kecerdasan tiruan ini sekaligus dapat membantu manusia dalam menyelesaikan berbagai pekerjaannya dengan menggunakan berbagai macam produk hasil rekayasa manusia itu sendiri.

Dari sekian kecerdasan tiruan yang secara rinci dan sistematis ditulis oleh Prof Imam Robandi,  saya sedikit bertanya  dalam hati. Mengapa seorang Prof Imam hanya menuliskan kelebihan dan kecerdasan  dari binatang ? Sebaliknya mengapa beliau tidak menuliskan juga sisi negatif dari setiap binatang tersebut ?
Beberapa bab yang telah saya baca, saya tidak menemukan sisi lain,  sisi kekurangan binatang yang dijadikan perumpaannya. Seorang Prof Imam hanya memberi contoh sisi kelebihan yang dimiliki oleh kawanan binatang.

Binatang menurut Prof Imam sangat hebat. Kawanan binatang yang ia contohkan sangatlah cerdas, seperti kecerdasannya dalam mengolah informasi sebagai manajemen informasi modern, yang tanpa sengaja telah mengajarkan manusia untuk berbuat lebih optimal. Selain memiliki banyak kecerdasan,  ternyata seekor semut juga memiliki sisi negatifnya (ini yang tidak Prof Imam jelaskan). Dan sisi negatif ini memiliki kesamaan dengan perilaku negatif manusia. Konon, binatang kecil (semut) ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan usianya tidak lebih dari satu tahun. Budaya ini banyak juga ditiru manusia untuk menimbun dan menumpuk harta dan lain-lainnya tanpa mengolahnya) dan juga tanpa disesuaikan dengan kebutuhannya. Dampak yang ditimbulkannya adalah sikap sia-sia dan pemborosan.

Begitu juga dengan lebah. Binatang satu ini dibekali senjata andalan berupa sengat berduri, dengan racun di dalamnya. Bagi yang hipersensitif, setiap sengatan dapat menyebabkan reaksi serius (seperti demam tinggi). Baginya, senjata tersebut berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan diri manakala diusik. Sikap defensif yang berlebihan ini sangat berbahaya jika diadopsi oleh manusia, terutama manusia yang memiliki sifat pendendam. Tuhan selalu mengajarkan kepada kita semua untuk bersikap sabar dan pemaaf kepada orang yang berlaku tidak baik kepada kita.

Berbagai pertanyaan tersebut sampai saat ini belum saya temukan jawabannya. Saya hanya berasumsi mungkin Prof Imam sedang mengajarkan kepada kita, untuk tidak melihat kerkurangan dan kelemahan orang lain. Kita semua sedang diajarkan untuk cukup melihat kelebihan yang dimiliki orang lain. Mungkin juga seorang Prof Imam sedang mengajarkan kepada kita bahwa hal yang wajar jika binatang berbuat kesalahan, karena seekor binatang diciptakan Tuhan hanya dikaruniai otak tanpa diberi kemampuan berfikir atau belajar menangkap sebuah kebenaran seperti manusia.
____
Tangerang. September.21.2020

Selasa, 08 September 2020

Pesan Guru

 PESAN TERAKHIR SANG GURU 


Turizal Husein (Abi).

__

Selepas menunaikan ibadah sholat subuh di Masjid al-Hidayah, yang letaknya tidak jauh dari rumah. Saya menyempatkan membuka whatsapp. Perasaan ini seketika mendadak  terkejut,  dan spontan mengucapkan Innalillahi wa innailaihi raajiun.


Prof. DR. H.A. Malik Fadjar, M.Sc dikabarkan meninggal dunia kemarin malam, Senin 7 September 2020 pada pukul 19.00. Muhammad Iyah kehilangan sosok teladan sekaligus tokoh bangsa yang sangat peduli pada dunia pendidikan.


Pertemuan kami (Civitas Akademika UMT, Muhammadiyah dan Ortom se Banten) terakhir dengan Almarhum , ketika beliau menjadi keynote speaker  Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah 48 "Reinvensi Pendidikan Muhammadiyah". Yang diselenggarakan pada tanggal 15 Februari 2020.


Hari itu tampilan Almarhum sangat luar biasa. Sederhana dan selalu menebar senyum. Usia tua tidak menyurutkan semangat untuk terus mengabdi dan berbagi demi kepentingan Muhammadiyah dan Bangsa.


Kesederhanaan yang ia tunjukan, seakan menjadi saksi dan bukti bahwa ia merupakan sosok yang patut diteladani. 


Jabatan Mentri Agama RI, Mendiknas, Menko Kesra, Rektor UMM dan UMS serta Wantimpres tidak lantas membuat kehidupannya serba mewah. Ia tetap menjadi sosok yang sederhana. Ia tetap turun kebawah. Melihat sekolah sekolah. Beliau Sosok seorang guru sekaligus pendidik sejati.


Dalam keynote speaknya beliau menyampaikan bahwa Muhammadiyah itu besar. Oleh karena itu untuk mengelola setiap amal usaha yang dimiliki harus ada kekhususan. 


Kemudian pendidikan Muhammadiyah menjadi salah satu ujung tombak perjalanan Muhammadiyah. 


Pendidikan Muhammadiyah harus ada aktivitas. Adanya aktivitas menandakan bahwa ada kehidupan di dalamnya. 


Apapun kondisi sekolah atau kampus harus selalu hidup. Dengan hidup ia akan berkembang. 


Berkembangnya Muhammadiyah sudah diawali oleh Kyai Ahmad Dahlan    dengan membangun Sumber Daya Manusianya. Dengan SDM unggul inilah dikemudian hari Muhammadiyah menjadi kekuatan yang luar biasa, terutama dalam tiga pilar gerakannya yaitu schooling, bearing dan feeding.


Diakhir Ceramah beliau berpesan untuk pendidikan Muhammadiyah, khususnya Banten untuk selalu bergairah. Membenahi manajemen dan mengendorkan birokrasi.


Kompak jangan gegeran. Kalau sudah besar jangan geger. Hindari konflik. Selalu menempatkan Muhammadiyah sebagai ladang amal ibadah kita semua.


Selamat jalan Ayahanda Prof Malik Fajar. Kami akan selalu mengenang jasa jasamu.

___

Kampus UMT. Sep.8.2020

BUAH DARI SETIAP PENGAJIAN

 BUAH DARI SETIAP PENGAJIAN


Turizal Husein.

___

Muhammadiyah sejak awal didirikan memiliki tradisi tersendiri bagaimana menanamkan ajaran nilai-nilai bagi warganya, yaitu tradisi pengajian. Tradisi ini terus abadi sampai saat ini. Dan ini menjadi ciri khas dalam aktivitas dakwah Muhammadiyah.


Dalam setiap dakwahnya Kyai Ahmad Dahlan sering menggunakan metode dakwah berupa pengajian. Bahkan sebelum mendirikan Muhammadiyah, ia telah lama mengadakan beberapa pengajian. Dan itu ia mulai sejak menggantikan ayahnya Kyai Abu Bakar.


Hari ini PCM Karawaci yang di ketuai oleh H. Seleman Hardi, SE SIP. MM telah mengukir sejarah baru. Melalui pengajian pengajian rutin PCM Karawaci telah berhasil mendirikan masjid ketiganya. Yaitu Masjid al-Kautsar.


Selain meresmikan Masjid al-Kautsar, juga diresmikan  Rumah Tahfiz al-Manar PC Aisyah dan Kantor Pelayanan LAZISMU Cabang Karawaci. (Cabang Pelayanan Pertama di Provinsi Banten).


Peresmian Masjid al-Kautsar, Rumah Tahfiz al-Mansr Aisyah dan Kantor Pelayanan LAZISMU dihadiri oleh Ketua Komisi VIII DPR RI Bapak DR. H. M Ali Taher Parasong, SH., M.Hum (sekaligus menandatangani prasasti dan membuka secara resmi ketiga amal usaha tersebut). Rektor UMT Bapak DR. Ahmad Amarullah, S.Pd, M.Pd. Pengurus DKM dan Yayasan al-Kautsar, seluruh pengurus PCM Karawaci, PC Aisyiah Karawaci beserta warga sekitar.


Membumikan dan menjaga konsistensi pengajian-pengajian ini sangat penting guna membentengi warga Muhammadiyah agar tetap berada di jalur keyakinan Islam berdasarkan Manhaj Muhammadiyah. Semoga gerakan yang  bermodel pengajian Muhammadiyah ini, selalu menjadi solusi dari setiap permasalahan bangsa.

__

Tangerang. Sep. 6.2020.

RINDU SAHABAT


Muhammadiyah sejak didirikan seratus duabelas tahun yang lalu memiliki tradisi unik dan khas bagaimana menanamkan ajaran nilai-nilai bagi warganya.


Tradisi unik tersebut adalah tradisi pengajian. Tradisi ini menjadi trend dan berkelanjutan sampai saat ini. Dan ini menjadi agenda rutin Persyarikatan mulai dari tingkat pusat sampai dengan ranting.


Tradisi pengajian yang telah dicontohkan Kyai Ahmad Dahlan dalam setiap dakwahnya. Bahkan sebelum ia mendirikan Muhammadiyah. Tradisi ini sudah dimulai sejak ia menggantikan  ayahnya Kyai Abu Bakar mengisi beberapa pengajian.


Dari pengajian pengajian inilah Muhammadiyah menjadi besar dan berkembang,  seiring dengan berkembang dan majunya berbagai amal usaha yang dikelolanya.


Dan lebih dari itu semua, melalui pengajian ini pula, Kyai Ahmad Dahlan ingin menanamkan kepada warganya untuk selalu menjalin dan menjaga silaturrahim.


Suasa covid 19 yang sampai saat ini belum menunjukkan kurva menurun. Bahkan dibeberapa wilayah mengalami peningkatan.


Dampaknya beberapa aktifitas seperti untuk sekedar saling menyapa sedikit terganggu. Akan tetapi keberadaan setiap  pengajian yang digagas Muhammadiyah,  paling tidak bisa mengobati rasa kerinduan bertemu dengan sesama sahabat dan saudara.


Hari ini saya turut merasakan itu. Pertemuan dengan sesama Dosen di acara pengajian merupakan kebahagian tersendiri.


Hari ini Ustadz Sarli Amri dan Kyai Kasan menjadi pengobat kerinduan itu. 

 

Semoga gerakan yang  bermodel pengajian ini, selalu  menjadi pengobat rindu selain nilai nilai ilmu yang diraih.

__

Tangerang. Sep. 6.2020.

MIMPI ANAK LEBAK

  * MIMPI ANAK LEBAK * ▪️turizal husein Dosen PS UMT Indonesia ____ Memiliki impian besar melanjutkan sekolah sampai ke perguruan tinggi...